Yogyakarta (ANTARA) – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan sektor ekonomi kreatif bisa mengambil peluang potensial untuk menguatkan perekonomian di tengah tidak menentunya situasi global saat ini, khususnya melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Kami melihat peluang sektor ekraf bisa dikembangkan di tengah situasi saat ini (melemahnya rupiah terhadap dolar AS),” kata Riefky, di Yogyakarta, Sabtu.
Ia menilai situasi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya harga produk dari luar negeri yang saat ini masih banyak masuk dan menyebar di pasar Indonesia.
“Situasi produk luar negeri yang semakin mahal ini bisa dimanfaatkan untuk mengampanyekan distribusi produk lokal,” katanya.
Menurutnya, produk ekraf dari Indonesia seperti fesyen, industri film, musik hingga gim saat ini berpeluang menggantikan produk luar negeri.
“Yang tadinya fesyen asing jadi menggunakan fesyen lokal, yang tadinya film asing ramai bisa jadi film lokal saat ini menjadi ramai, begitu juga dengan gim dan musik serta produk kreativitas anak bangsa lainnya,” jelasnya.
Pemerintah, lanjut Riefky, saat ini tidak hanya meningkatkan hilirisasi dari sektor tambang, tetapi juga ekonomi kreatif yang sangat potensial untuk dikembangkan melalui orkestrasi antara pelaku usaha, pemerintah pusat maupun daerah.
“Karena hilirisasi tidak hanya dari sektor tambang, tetapi juga ekraf, dalam hal memperkuat pasar lokal ini menjadi peluang,” kata Riefky.
Salah satu upaya penguatan ekraf, lanjut Riefky, dilakukan melalui program IDE.IND yang telah diluncurkan di Yogyakarta sebelum nantinya diselenggarakan di berbagai provinsi di Indonesia.
“Acara IDE.IND adalah kegiatan untuk mendukung merek lokal yang juga menjadi kick-off di Yogyakarta dan akan kami lakukan ke berbagai daerah selama semester dua tahun ini,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf RI Yuke Sri Rahayu menambahkan Yogyakarta terpilih menjadi kota dan provinsi pertama pelaksanaan IDE.IND 2026 dengan berbagai rangkaian kegiatan.
“Ada pameran produk ekonomi kreatif, talkshow, dan diskusi inspiratif, kuis, dan permainan interaktif untuk pengunjung,” katanya.
Ia mencatat ada empat sesi diskusi dengan mengangkat berbagai tema yang relevan untuk penguatan ekonomi kreatif di era saat ini.
“Kegiatan talkshow diikuti kurang lebih 120 peserta yang terbagi menjadi empat sesi yang mewakili masing-masing kedeputian di Kementerian Ekonomi Kreatif,” kata Yuke.
Pihaknya juga melibatkan pemerintah daerah, komunitas ekonomi kreatif, perguruan tinggi, asosiasi, media, mitra usaha, serta masyarakat umum sebagai bagian dari penguatan jejaring dan kolaborasi ekonomi kreatif.
“Kami berharap konsep baru IDE.IND dapat menjadi titik awal penguatan jejaring ekonomi kreatif nasional yang nantinya dapat dilakukan di berbagai daerah lainnya di Indonesia,” jelasnya.



